INDRAGIRI HILIR, Tuahkarya.com- 42 orang pelajar dari satuan pendidikan tingkat sekolah dasar (SD) marginal yang berada didaerah pelosok terpencil Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau, terpaksa harus bisa menelan kenyataan pahit disaat menjalani proses pembelajaran.
Setiap hari semua siswa-siswi dan guru harus mengikuti proses belajar mengajar dengan kondisi bangunan sekolah tanpa sarana serta prasarana yang belum memadai, sekolah induknya berada di parit 5, SDN 011 Kuala Sebatu.
Ironis, padahal Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir kerap menggaungkan upaya pembangunan merata untuk semua sektor.
Namun disayangkan, kali ini terungkap bahwa untuk fasilitas sektor pendidikan didaerah pelosok masih ada yang tampak buram dan butuh perhatian serius dari pemerintah.
Bagaimana tidak buram, diwilayah ibu kota Tembilahan saja banyak proyek dengan nilai anggaran fantastis masuk dalam skala prioritas.
Bahkan sekolah-sekolah lengkap dengan alat peraga dan penunjang lainnya yang memadai, sementara wilayah pelosok tidak.
Dalam sebuah unggahan video yang beredar di media sosial, kondisi sekolah dasar Marginal di Parit 14, Desa Kuala Sebatu, Kecamatan Batang Tuaka, tampak menyedihkan.
Bayangkan saja, kondisi papan untuk dinding sekolahnya tampak pucat tanpa warna, sebagian kursi yang terbuat dari kayu terlihat patah, tidak ada lemari bagus untuk menyimpan buku, atap seng dan lantai sama-sama bolong.
Deskha, selaku tenaga pengajar disekolah tersebut mengungkapkan bahwa kondisi ini telah ada sejak 2 tahun lalu, saat sebelum ia ditugaskan untuk mengajar ditempat tersebut.
"Kursi belajar yang ada saat ini dibantu warga sekitar, 2 tahun lalu lebih parah lagi dari sekarang," ujarnya.
Lebih lanjut, "Sekolah kami hanya ada 3 ruangan, jumlah pelajar tercatat sebanyak 42 orang, dan tenaga pengajar ada 3 orang." Kata Deskha.
Mereka (pelajar) harus berpacu dengan waktu untuk bisa mencapai cita-citanya, mungkin saja butuh waktu 20 tahun lagi baru pemerintah akan melirik dan membangunkan fasilitas yang jauh lebih layak lagi. Semua berharap tentu saja tidak demikian.
Saat dihubungi awak media, Kepala Desa Sebatu, Budi, membenarkan adanya sekolah marginal di wilayahnya.
"Sudah berdiri sebelum saya menjadi kepala desa aktif tahun 2022," ujar Kepala Desa.
Dihari yang sama, ketua Komisi IV DPRD Inhil yang membidangi Pendidikan, Mahyudin dari fraksi Partai Gerinda, menyampaikan akan segera berkoordinasi dengan dinas terkait.
"Terimakasih informasinya, insyaallah kita akan segera melakukan koordinasi dengan pihak terkait yakni Dinas Pendidikan Kabupaten Indragiri Hilir dalam waktu dekat," ungkapnya saat dihubungi awak media via telpon, Sabtu (2/2/2026) siang.
Kabupaten Indragiri Hilir merupakan daerah dengan satuan terbanyak ketiga di Provinsi Riau, dan harusnya pembangunan fasilitas pendidikan jadi prioritas, baik pembangunan dari pusat, maupun daerah.
"Malu kita kalau ini tidak ditanggapi dengan serius, nanti mungkin kita akan lakukan koordinasi dan survey dulu, kemudian baru kita upayakan langkah-langkah terbaik untuk sekolah tersebut. Yang lain juga begitu akan kita soroti bersama agar pendidikan di Inhil semakin membaik," tutupnya.
