PEKANBARU, Tuahkarya.com– Ada resah yang tak bisa disembunyikan dari wajah mahasiswa asal Indragiri Hilir di Pekanbaru.
Rumah besar mereka, Himpunan Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Indragiri Hilir (HIPPMIH) Pekanbaru, sudah bertahun-tahun vakum. Tak ada kegiatan, tak ada aksi, seperti mati suri.
Ogi, mahasiswa Inhil asal Pengalihan Keritang yang juga Ketua Cabang GMNI Pekanbaru, bicara dengan suara lirih namun tajam.
“Sebagai mahasiswa asal Inhil yang menginginkan wadah pembinaan dan persaudaraan ini dapat berjalan sebagaimana mestinya, kami sangat prihatin dan sedih melihat rumah besar mahasiswa asal Inhil ini vakum dan tidak ada kegiatan seperti sekarang ini,” katanya.
Bagi Ogi dan banyak aktivis lainnya, HIPPMIH bukan sekadar organisasi. Ia rumah. Tempat berhimpun, tempat ditempa, tempat belajar jadi manusia Indonesia seutuhnya. Di sana, pemuda Inhil di rantau merajut persaudaraan, mengasah nalar, dan menyiapkan diri pulang membangun negeri.
Peran HIPPMIH sejatinya strategis. Ia kawah candradimuka SDM Inhil di Pekanbaru. Dari rahimnya lahir pemimpin, aktivis, birokrat, dan penggerak daerah. Tapi kini, rumah itu sunyi.
Kepengurusan tak jelas. Masa bakti habis, namun Musyawarah Besar tak kunjung digelar.
“Namun sangat disayangkan kalau organisasi besar seperti HIPPMIH vakum tidak ada kegiatan bahkan kepengurusannya pun kini tidak jelas, karena telah habis masa bakti, tetapi tak kunjung melaksanakan musyawarah besar (Mubes),” imbuh Ogi.
Keresahan ini adalah alarm. Ketika wadah pembinaan anak muda mati, yang hilang bukan sekadar agenda. Yang hilang adalah regenerasi.
Yang hilang adalah ruang dialog. Yang hilang adalah ikatan pemuda rantau dengan tanah kelahirannya.
Ogi menitip pesan untuk para senior HIPPMIH. Jangan diam. Jangan biarkan rumah yang dulu dibangun dengan peluh ini roboh karena dibiarkan.
“Dan hingga saat ini belum tahu sampai kapan ada Mubes lagi sebab belum ada informasi dari ketua, ataupun teman-teman lainnya,” ucapnya.
Indonesia tak akan maju jika pemudanya tercerai. Inhil tak akan hebat jika mahasiswanya di rantau kehilangan arah.
HIPPMIH harus hidup kembali. Bukan untuk gagah-gagahan, tapi untuk memastikan ada estafet kepemimpinan, ada jembatan pulang, ada semangat kebangsaan yang terus menyala di dada anak Inhil.
Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang merawat rumah-rumah pembinaannya. Dan rumah itu, hari ini, mengetuk nurani kita semua: selamatkan HIPPMIH, hidupkan kembali denyutnya.
