ARTIKEL oleh BUDI WAHYONO, M.Pd.- Dahulu, saya termasuk orang yang cepat bereaksi.
Ketika melihat guru senior duduk diam diruang guru saat ada program baru, jujur, dalam hati saya sempat berpikir begini.
“Kurang bersemangat untuk berubah.”
Saat itu, saya penuh semangat.
Saya mengikuti berbagai pelatihan, mencoba aplikasi baru, sibuk dengan inovasi, kompetisi, dan administrasi, yang penting ingin ambil bagian dalam perubahan.
Saya yakin, mereka yang tidak ikuti perubahan adalah penghalang.
Tetapi kini. setelah saya berada dalam fase yang sama, pandangan saya berubah.
Ternyata, itu bukanlah sikap malas.
Namun, lebih tepatnya adalah keletihan. Tetapi bukan keletihan yang biasa.
Sebenarnya, ini adalah keletihan akibat sistem yang berulang.
Guru-guru yang telah lama mengajar, mereka telah sering kali menyaksikan hal yang sama.
Program datang, disoroti dengan megah, perlahan menghilang, lalu digantikan oleh program baru.
Meskipun nama berbeda, istilah semakin menarik, namun sering kali esensinya tidak banyak bergeser.
Yang benar-benar berubah malah administrasi semakin bertambah.
Akhirnya, saya mengerti, mengapa mereka memilih untuk “tenang”.
1. Mereka memiliki pengalaman yang luas. Mereka tahu mana program yang benar-benar memberi dampak, dan mana yang hanya sekadar trend sementara.
Sehingga, mereka tidak mudah terjebak dalam euforia.
2. Fokus mereka telah bergeser, kini bukan lagi soal terlihat aktif atau memiliki banyak sertifikat, melainkan lebih kepada satu hal:
“Apakah ini benar-benar membantu siswa saya belajar? ”
3. Energi mereka tidak sebanyak dulu.
Ditahap ini, mereka lebih selektif.
Bukan berarti menolak perubahan, tetapi memilih mana yang pantas diperjuangkan, dan mana yang hanya menguras tenaga.
Saya juga baru menyadari, menjadi guru bukanlah tentang seberapa banyak aplikasi yang kita kuasai, atau seberapa sering kita mengikuti pelatihan.
Hal yang paling penting tetap tidak berubah:
Apa yang terjadi didalam kelas. Interaksi dengan siswa. Cara kita menjelaskan pelajaran. Kesabaran kita dalam menghadapi mereka (siswa).
Banyak guru senior tampak “tenang”, bukan karena tidak peduli. Sebaliknya, mereka ingin tetap sehat mental, tetap kuat, dan terus hadir sepenuhnya bagi siswa-siswa mereka.
Untuk rekan-rekan guru muda:
Silakan tetap bersemangat, terus belajar, terus bergerak.
Namun satu hal, jangan terburu-buru menilai ketenangan guru senior sebagai ketidakpedulian.
Mungkin mereka hanya memilih cara yang lebih sederhana, lebih fokus, dan dampaknya lebih nyata.
Karena pada akhirnya,
yang paling penting bukan seberapa sibuk kita terlihat, melainkan seberapa dalam siswa kita benar-benar memahami.
ARTIKEL- Abanya Atqa dan Guru Supri
